Calm Down and Be Classy, Girl! ☺

Senin, 03 Desember 2012

Kupu-Kupu Kaca


“Aku sayang kamu.” Terasa begitu hangat ketika Adit memelukku dan seketika kata-kata itu melemahkanku. Bukan karena aku seorang wanita yang lemah tapi apa dayaku ketika seseorang yang sangat aku cintai mengatakan hal itu dengan tatapan yang tampak begitu jujur bagiku, tak peduli entah ia sayang ataupun tidak aku akan tetap mencintainya. Pelukkannya begitu hangat terasa, ciuman dan setuhannya membuatku semakin tak berdaya. Aku ingin memaki diriku sendiri yang begitu gampang tersentuh dengan sepenggal kalimat yang mungkin terasa biasa, mengapa ini begitu rumit untukku tapi terasa gampang olehnya? aku memikirkan segala bentuk penyesalan pada nantinya karena kelemahanku dan mungkin kesalahan kami tapi Adit merasa hal ini sangat sepele. Aku takut! Tapi dengan sepenggal kata yang diucapkan Adit dengan hangat, “Aku akan tetap mencintaimu, tak peduli apapun yang akan terjadi padamu nanti” membuatku menjadi wanita paling berani dan beruntung yang pernah ada di dunia ini.

******

“Non Dea, bangun non… Udah jam stngah 7…” Suara halus bi Wati membuatku terbangun dari tidurku.
“Mama Papa dimana bi? udah berangkat ya?” Jawabku kepada bi Wati.
“Udah non, Bapak Ibu gak sempat pamit, katanya buru-buru. Ini tadi Ibu titipin ini buat non.” Kata bi Wati sambil memberikan secarik kertas pink kepadaku.
‘Dea sayang, mama papa gak sempat pamit. Dea baik-baik ya, nanti mama bawain oleh-oleh! kiss hug Dear’. Begitu isi secarik kertas pink itu, lagi-lagi aku ditinggal pergi mereka keluar kota. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka, tapi aku sadar bahwa yang mereka lakukan dan kerjakan sepenuhnya untukku juga, tapi apa gunanya kalau setiap langkah dan perubahan kecil dalam hidupku, mereka tak tahu. Kadang aku sangat iri kepada mereka yang hidup sederhana tetapi memiliki begitu banyak waktu berkumpul bersama orang tuanya, sedangkan aku bahkan makan pun sangat jarang sekali bersama mereka. Bi Wati kadang yang lebih menyadari dan mengerti akan setiap perkembangan dan perubahan dalam diriku dan setia menemaniku saat aku benar-benar butuh sosok orang tua dalam hidupku.
“Non, mandi dulu. Pakaiannya udah bibi siapin” kata bi Wati sambil memberikan handuk dan seragam kepadaku.  Inilah yang ia lakukan selama 17 tahun aku hidup, dialah yang setia menggantikan posisi kedua orang tuaku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Marah selalu ada dalam benakku, tetapi tak apalah, aku tetap bangga dan merasa sangat beruntung memiliki orang tua pekerja keras seperti mereka.
Terasa dingin saat percikan air menyentuh tubuhku, terngiang-ngiang kembali kata-kata Adit. Begitu dalam, tetapi penuh dengan tanda Tanya apakah ia benar-benar serius? dan apakah aku tidak salah dalam mengambil keputusan dengan begitu banyak pandangan negative orang-orang terhadapnya, tetapi rasa percayaku lebih besar daripada apa yang kudengar. Aku percaya dengan hatiku. Tidak peduli mungkin iya atau tidak ia menipuku. 

******

“Deaaaa!!!” teriak Ana dan Nia sahabat karibku ketika aku memasuki pintu gerbang sekolah.
“Ada gossip baru!” bisik Nia kepadaku. Inilah kebiasaan mereka yaitu membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain, kebiasaan SMA memang. Tapi bagiku ini sangat tidak berguna dan tidak penting sama sekali, kadang aku hanya mendengar tanpa rasa penasaran sedikit pun.
“Kamu tau gak de? Si sasha anak bahasa yang sok alim itu hamil!” Balas Ana dengan penuh semangat.
“Udahlah biarin aja…” balasku singkat sambil berjalan menuju kelas.
Mereka menatapku dengan kesal, inilah yang biasa aku lakukan dan itulah yang biasa mereka dapati ketika mereka mulai membicarakan ‘gosip sekolah’ kepadaku. Tidak berminat sama sekali. Aku, Nia dan Ana sudah bersahabat sejak kami SD, orang tua kami saling kenal sehingga kami selalu ditempatkan di sekolah yang sama. Kami bersahabat, bermain bersama, dan aku selalu berusaha ada ketika mereka butuh. Tetapi banyak hal yang sering membedakan aku dengan mereka, salah satunya kebiasaan mereka yang sangat senang membicarakan orang lain. Menurutku itu hanya tampak seperti orang bodoh, dan well dalam hal ini kami sangat berbeda.
“Eh de, si Adit kayanya udah lama banget gak nganter jemput kamu ke sekolah?” bisik Ana dari kursi belakang sambil melirik guru biologi kami yang galak, mencegah agar kami tidak ditegur karena membuat keributan di kelas.
Aku berpikir sejenak, benar kata Ana memang sudah hampir seminggu aku tidak bertemu Adit lagi, kami hanya berkomunikasi lewat handphone. Tetapi yang aku tahu dan yang memang dia katakan dia sedang sibuk dengan pertandingan basket antar sekolahnya untuk beberapa minggu ini.
“ho’o dee! Selingkuh kali dia!” Sambung Nia menyadarkanku dari lamunanku. Disambung gelak tawa mereka berdua dari belakang.
“DEA, NIA, ANA!” teriakan pak Joni guru biologi mengagetkan kami. Dan seketika membuat Nia dan Ana diam seribu bahasa.
“Apa yang kalian tertawakan???” Bentaknya sambil berjalan menuju meja kami.
Tiba-tiba aku merasa mual  yang tidak tertahan. Dan sangat ingin muntah sekarang juga.
“Izin ke WC pak!” teriakku kepada pak Joni sambil berlari keluar kelas menuju ke WC tanpa menunggu persetujuannya. Isi perutku seakan ingin keluar dan tak dapat lagi di tahan, aku membayangi kaca WC ini dengan seribu pertanyaan dalam benakku. Apa yang terjadi padaku? nalarku.
“Dea!” Teriakan Nia dan Ana membuyarkan lamunanku.
“Kamu dicariin pak Joni! Malah kabur ke WC…” Sambung Nia dengan kalimat yang mungkin lebih panjang tapi hampir semua tak dapat aku dengar, kepalaku seperti sedang dibentur ke tembok. Aku menjambak rambutku sendiri menahan sakitnya.
Seketika kedua kakiku terasa lemah, darahku seakan berhenti sejenak, aku menatap sekeliling dinding di sini, semakin dalam semua bayangan itu seperti menjadi satu.

******

“Non Dea…” Suara lembut itu menyadarkanku. Bi Wati, tampak dengan wajahnya yang gelisah menatapku ketika aku terjaga.
“Iya Bi… Kok aku di rumah?” Sedikit heran dengan apa yang terjadi saat aku tertidur tadi.
“Dea… Kamu udah sadar?” Suara Nia dan Ana tiba-tiba serentak mendekatiku.
“Kamu pingsan tadi di WC” Sambung Ana.
Aku masih dengan setengah sadarku menerka-nerka apa yang terjadi padaku. Dengan badan yang ‘setengah hidup’ aku mencoba meluruskan badanku. Dimana Adit? Mengapa di saat seperti ini orang yang seharusnya hadir di sini tak nampak sedikit pun batang hidungnya. Aku mencoba meraih telepon genggamku, tak ada satu pun pesan disana.
“Non, Ibu nelpon…” Kata Bi Wati sambil menyodorkan telepon ke arahku.
“De, kenapa kamu sayang?” Terdengar suara lembut mama dari kejauhan.
“Gak kenapa-kenapa kok ma. Mungkin kecapean…” Balasku.
“Ooh, ya udah sayang, mama gak mau dengar kabar gak enak lagi dari Bi Wati ya. Istirahat yang cukup, makan yang teratur ya sayang. Mama rapat dulu nanti mama telepon lagi ya sayang. Love you…” Katanya dengan buru-buru sembari menutup teleponnya dari kejauhan, ya cukup dengan mempedulikanku lewat telepon saja sudah cukup bagiku. Hal yang lumayan jarang dilakukan mama dan mungkin juga papa, pikirku. Hanya tersisa satu orang yang kutunggu walaupun sekedar kabarnya saja cukup bagiku, Adit. Dimana ia saat aku butuh? Dimana ia saat semua orang mengkhawatirkan keadaanku?

******

Aku terbangun dari tidurku, aku merasa mual yang tak tertahan. Aku berlari ke arah kamar mandi, lemah sekujur tubuhku. Aku meratapi kaca kamar mandiku. Apa yang terjadi padaku, Tuhan? Bisikku seakan bertanya pada diriku sendiri. Kesekian kalinya! Baru teringat dalam ingatanku, aku belum datang bulan. Aku seperti berhenti bernapas dan berpikir sejenak. Aku membasahkan wajahku dengan air, meniauhi segala bentuk pikiran, entah apapun itu dalam benakku.
Aku segera berganti pakaian, tidak lucu kalau aku hanya bertanya dan seakan dihantui rasa penasaran sendiri di sini, aku segera bergegas ke K-24 dengan sejuta doa pastinya. Semoga tak terjadi apa-apa, teriakku berkali-kali dalam hati.
Be calm Dea, kamu akan baik-baik saja, batinku menenangkan diriku sendiri. Aku meraih tespek itu, tanganku gemetaran menunggu hasilnya. Tampak 2 garis merah menegaskan mataku. Nafasku serasa terengah-engah tak sanggup berkata-kata. ADIT! Aku berteriak dalam hati, suaraku serasa tak sanggup lagi bersembunyi di balik bibirku. Aku terduduk di lantai kamar mandi, seakan tak bisa lagi menegakkan kakiku sendiri, sampai tak sanggup lagi menangis, aku tidak bisa diam di sini sendiri!
Aku berlari keluar dari kamar mandi itu dan mencoba mencari telepon genggamku. Dimana? Shit! Aku meraih telepon genggamku mencoba mencari kontak Adit. Tanganku seperti kaku, gemetaran tak beraturan.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan.”
Angkat teleponku Adit! Teriakku pelan. Aku mencoba meneleponnya entah sudah yang ke berapa kali. Dan tak ada jawaban sama sekali. Kali ini aku benar-benar butuh kamu disini Adit, bisikku dalam hati. Tiba-tiba terbayang kembali kata-kata Adit malam itu, dimana semua kata-kata itu? Dimana janjimu untuk di sini apapun keadaanku?

******

Telepon genggamku bergetar, aku segera meraihnya dengan berjuta harapan itu telepon dari Adit. Aku menatap ke telepon genggamku dan  ternyata Ana yang meneleponku.
“Kamu kenapa gak masuk sekolah de? Masih sakit ya?” Tanya Ana dari kejauhan.
“Na, ada yang mau aku ceritain ke kalian.” Sambungku tanpa menjawab pertanyaan Ana.
“Ya udah, ntar kita ke sana ya…” Balasnya sembari menutup teleponnya.
Suara langkah kaki Ana dan Nia terdengar sedang menaiki tangga menuju ke arah kamarku. Tampak wajah mereka memasuki kamarku. Aku tampak melirik dari ranjangku ke arah mereka.
“Kenapa?” Buka Ana.
Bungkam balasku. Aku kemudian meraih tasku dan menyodorkan tespek itu ke arah mereka. Mereka tampak saling melirik dengan tajam dengan tatapan entah apa maksudnya.
“Kamu hamil?” Tiba-tiba suara parau Nia terdengar seakan tidak percaya.
“Iya” Balasku singkat.
“Adit?” Tanyanya dengan penasaran.
“Iya. Tapi Adit sama sekali gak ada kabar. Aku bingung” sambungku.
Mereka nampak diam saling bertatapan cukup lama. Tak lama kemudian mereka berdiri dan seperti ingin bergegas pulang. Aku menatap mereka dengan tatapan seribu heran.
“De, kita pulang ya. Maaf aku gak bisa bantu kamu.”  Kata Nia tiba-tiba melangkapi keherananku.
“Aku juga.” Sambung Ana singkat.
Mereka kemudian berjalan keluar kamarku tanpa menunggu apapun jawaban dariku. Sedikit berbisik setengah berbicara aku seakan memanggil mereka untuk tetap tinggal dan tidak meninggalkanku. Tapi banyak yang menjadi pertanyaan, apa itu sahabat? Apa mereka yang pantas disebut sahabat? Aku seperti menarik kembali suaraku dan membiarkan mereka pergi. Mungkin aku lebih tenang jika menyelesaikan masalahku sendiri.

******

“Jalan Kaliurang KM 10, no. 12 yah pak…” kataku kepada sopir taksi. Aku mencoba mencari Adit ke kontrakannya, sendiri. Aku menatap sekeliling jalanan panjang ini sembari berdoa dapat menemukan Adit dan bisa bercerita begitu banyak lelahku padanya.
Taksi ini berhenti tepat didepan pintu gerbang kontrakannya, tak seperti biasanya gerbangnya terbuka seperti ada tamu. Aku bergegas turun dari taksi dan mencoba memasuki gerbangnya. Tampak dari kejauhan ada sepasang sepatu wanita di depan pintu. Aku tersentak kaget dan bertanya dalam hati, siapa yang sedang bertamu.
Tiba-tiba terdengar suara wanita muda dari dalam kontrakannya, tanpa mengetuk terlebih dahulu aku langsung membuka pintunya yang memang tidak sedang dikunci. Tampak seorang lelaki dan wanita sedang duduk berdekatan di sofa dekat kamar. Tampak jelas bahwa itu adalah Adit, aku menahan dadaku yang seakan berpacu dengan cepat dan mencoba untuk menahan diriku dari segala bentuk pikiran buruk.
“Adit!” Panggilku mengagetkan mereka berdua yang dengan serentak langsung menoleh kearahku. Adit menatapku dengan tajam seperti tak merasa bersalah sedikit pun.
“Keluar kamu!” katanya dengan tegas tepat di depan wajahku. Hampir tak mengenali orang yang saat ini ada di hadapanku adalah Adit. Aku masih berdiri kaku seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. Sembari genggaman kerasnya di lenganku memaksaku keluar dari kontrakannya. Jangankan untuk berbicara, bernafas pun seakan aku tak sanggup.  Aku benar-benar tak percaya lelaki ini adalah Adit.
“Siapa sih sayang?” Kata wanita itu sembari mendekati aku dan Adit. Sayang??? Ragaku seakan sedang berada di dalam mimpi. Aku seperti memohon seseorang memukul kepalaku dan menyadarkan aku bahwa ini hanya semacam mimpi buruk.
“Bukan siapa-siapa sayang!” Balas Adit sambil mendorongku keluar dan semakin menyadarkanku bahwa ini bukanlah mimpi. Aku tak sanggup menahan berat tubuhku sendiri, kakiku terasa begitu lemas, aku menatap wajah Adit tanpa sanggup berkata-kata sedikit pun dan berharap bahwa ini benar-benar hanya mimpi.

******

Sudah cukup. Ini bukan mimpi, Dea. Itu Adit! Aku memang mengenal Adit, ini bukan waktu yang singkat bagi kami untuk harusnya mengerti apa itu tanggung jawab, dua tahun. Aku berfikir lagi, khilaf itu pasti ada. Mungkin ini saat dimana ia menghadapinya. Apapun alasannya aku tak bisa hanya dengan menunggunya di sini. Aku mempertahankan sesuatu yang tidak berdosa di sini, bukan sekedar mencari tanggung jawab dari kata-kata seseorang!
Tanganku masih kaku dan tak mampu digerakkan, aku mencari kontak Nia. Yang aku butuh bukan orang yang dapat membantuku di sini, tapi orang yang kuanggap sahabat untuk sekedar menjadi teman bicaraku saat ini.
Teleponnya tersambung, aku menarik nafas lega. Angkat Nia, batinku memohon.
“Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silakan…” Aku langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa mendengar penjelasan sampah operator teleponnya. Aku kemudian mencari kontak Ana. Mungkin ia yang dapat membantuku di saat seperti ini.
Tidak aktif! Teriakku sendiri. Aku menarik nafas panjang. Kebingungan. Aku tak mau seperti orang berdosa yang menanyakan kemana Tuhanku saat ini, aku tertunduk lama dan hanya memohon untuk Ia menyabarkan aku sampai kapanpun itu.
Aku bergegas ke rumah orang tua Adit. Adit tinggal di Jogja sendirian dan rumah orang tuanya berada di Bantul. Aku seperti memikirkan kata-kata apa yang bisa aku katakan kepada orang tuanya nanti. Akan menjadi suatu cerita yang panjang karena mengenal orang tuanya pun aku belum pernah. Beribu harap, ini dapat sedikit membantuku. Aku menatap rumah Adit dari kejauhan, seperti memaksa kakiku sendiri untuk melangkahkan dirinya masuk ke dalam rumah itu. Aku mengetuk pintu rumah yang tampak sepi sambil terus berdoa kedua orang tuanya dapat membantuku.
Tiba-tiba pintu terbuka dan tampak seorang wanita setengah baya keluar dan tersenyum ramah padaku.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita itu dengan ramah.
“Emm.. Saya ingin bertemu dengan orang tuanya Adit, Bu.” Jawabku.
“Oh, saya sendiri ibunya Adit.” 
Dadaku berguncang hebat, aku  bertanya kembali niatku sendiri, tapi tidak! Aku menahan kakiku untuk tetap berada di sini. Ingat Dea, ini usahamu dan mungkin yang terakhir kalinya kau membutuhkan pengakuan itu.
“Mari nak, duduk dulu. Ibu buatkan minum.” Suara lembut ibu Adit membuyarkan lamunanku.
“Gak usah repot-repot, bu. Saya kesini cuma sebentar…” balasku sambil memikirkan kata-kata selanjutnya.
“Oh iya… Ada apa ya?”  sambungnya.
Jantungku berpacu dengan cepat, aku bingung! Ayolah dea, bicaralah. Hatiku membujukku.
Tiba-tiba suara motor matic, dan tak asing bagiku tedengar jelas di telingaku.
“Adit!” Ucapku kaget sambil tersentak berdiri. Tampaknya ia juga. Ia membuka helmnya dan dengan wajahnya yang kebingungan seperti menerka-nerka aku ini siapa lalu menuju ke arahku.
“Adit…” sambungku lagi. Ibunya terlihat heran dengan apa yang terjadi di rumahnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sepertinya ia sedang menyimpulkan apa yang terjadi di sini.
“Ngapain kamu di sini?” balas Adit dengan nada yang cukup kasar menurutku.
“ADIT!” bentak ibunya sambil menggenggam tangan Adit seperti ingin menahannya yang hendak mendaratkan pukulannya ke arahku.
Aku menatapnya tajam. Ya, inilah dia yang meniduriku dan seakan tak berdosa di atas khilafnya bertindak seperti tak ada apa-apa. Dia membalas tatapanku, seakan menantangku.
“Aku nggak peduli kemarin kamu dengan siapa dan aku nggak akan pernah mau nyari tau tentang itu! Aku ke sini nyari kamu hanya supaya kamu tau, aku mengandung anak kamu!” kataku dengan parau dan tatapan yang seakan dibanjiri sesuatu, entah apalah. Aku menampar diriku yang dengan terpaksa harus tampak lemah demi memohon suatu pengakuan seseorang. Murahan! Teriakku dalam hati. Aku menegakkan kepalaku, menatap wajah Adit yang seperti terdiam kehabisan kata-kata. Mungkin dia terkejut atau seakan berpikir rencananya entah apa. Aku tak peduli! Selesai.
Aku berbalik dan melangkankah kakiku keluar dari tempat itu dengan sejuta rasa menyesal bukan kepada siapa-siapa, tapi kepada diriku sendiri yang terlalu dalam dan terlalu jauh mempercayai seseorang yang selalu benar menurutku, aku kira kita pendosa dan apa yang salah? Ini cinta! Ternyata salah, bukan kita! Hanya aku yang berdosa dan kamu hanya mencari bahagia.
“Tunggu!” teriakan ibu Adit menghentikan sedikit langkahku. Aku berbalik dan menahan derasnya air mata yang seakan tak mampu lagi ditahan.
“Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi?” sambungnya.
“Aku…” belum sempat dengan sempurna terucap olehku tiba-tiba teriakan Adit menghentikan seluruh suara yang terbata ingin bercerita dan bahkan darah yang mengalir di tubuhku pun ikut terhenti olehnya.
“PEMBOHONG!” katanya.
“Apa yang kamu cari? Uang? Hah? Kamu mau berapa? Kita udah putus! Nggak usah nyari alasan biar kita balikan! Murahan!”
“Dengar! Pergi dari sini dan jangan pernah nyari aku lagi, aku dari keluarga baik-baik! Keluargaku nggak pernah dengan nggak ada hormatnya mengusir orang dari rumah kami! Tapi kalo kamu mau, aku bisa melakukannya.” Sambungnya.
Aku menatap tajam mata Adit yang seakan membidikku tepat di depan ibunya. Aku menoleh kearah ibunya, dan matanya tampak ingin menamparku dengan segala apa yang diucapkan Adit yang sepertinya dirasa benar.
“Nggak usah repot-repot, Dit! Jaga diri kamu baik-baik.” Kataku sambil tersenyum dan berjalan pulang tanpa peduli dengan siapapun bahkan diriku sendiri dan ‘dia’ yang ada di perutku yang aku perjuangkan hadirnya di sini.

******
1 bulan berselang, aku masih terdiam menatap banyak hal dari balkon ini. Di sini pula Adit beucap banyak kata manis untukku. Terpejam sejenak dan merasakan angin yang memeluk dari sempitnya dunia di mataku, udara yang seakan membunuh seluruh tubuhku  dan Dia yang mungkin lupa akan kasihNYA menghukumku! Aku salah apa? Bukannya Kau tak pernah memberi cobaan melebihi batas sabar kepada siapapun? Kenapa aku IYA!? Aku selalu tidak punya alasan untuk membenciMU! Tapi, jika mereka kau tolong, aku tidak, apa aku masih tidak pantas membenciMU?!
“Dea!” Suara Papa menyentakkan batinku. Aku sedikit merasa tenang dan dengan rasa berdosa menarik segala ketidakpercayaanku pada kasihNYA.
“Mama sama papa baca pesanmu, kamu kenapa sayang?” Tanya mama dengan halus sambil berusaha memelukku dengan hangat. Aku menyambutnya tanpa bisa menahan segala tagisanku di dalam pelukannya.
“Aku mau jujur satu hal sama mama papa…”
“Aku hamil dan…”
Tiba-tiba pelukan mama tak terasa di tubuhku lagi dan sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Papa menamparku, aku tertunduk. Mungkin berpikir. Ya, ia harus melakukannya. Aku tetap menggenggam keyakinanku. Mereka mengertiku.
“Siapa yang menghamili kamu? Papa pikir kamu bisa menjaga kepercayaan papa! Papa ninggalin kamu dengan begitu banyak harapan papa sama kamu! Tapi apa yang kamu lakukan? Cuma bisa bikin papa malu!” Aku terdiam mendengar kata-kata papa. Aku menatap wajah mama yang menahan diri dalam tangisnya, entah apa yang ditangisinya. Mungkin menyesali hadirku.
“Dasar perempuan jalang!” terdengar seperti cukup sampai di situ. Itu lebih dari tamparan dan jambakan yang lebih pantas mendarat ditubuhku daripada harus mendengar kata-kata yang lebih dari petir bagiku.
“Papa mama kemana? Kemana selama ini?! Papa mama lebih mentingin semua pekerjaan itu dibanding aku! Jangankan aku hamil, lihat rambutku sekarang pendek atau tanganku patah sekalipun mungkin papa dan mama nggak akan tahu! Aku emang salah! Tapi jangan salahin aku karna mama dan papa juga nggak pernah ada di sini untuk aku!” Aku menangis meninggalkan mereka.
Langkahku menuntunku turun dari tangga, entah tujuanku ingin kemana. Intinya keluar dari sini. Tiba-tiba ketukan pintu mengagetkan aku dan mungkin kami semua di sini. Papa dan mama segera menuruni tangga, aku menuju pintu dan mencoba membuka pintu itu.
Tersendak seperti berhenti peredaran darahku. Aku melihat wajah Adit dihadapanku dan lebih mengejutkanku kedua orang tuanya pun di situ. Aku memastikan ini bukan mimpi bagiku. Aku berbalik dan menatap papa mama yang mendekati kami.
“Ada apa ini?” tanya papa menghinangkan kami seketika.
“Kami orang tua Adit, kami ingin meminta maaf sebelumnya...” kata ayah Adit dan belum lengkap diselesaikannya dan terhenti ketika papa menyuruh mereka masuk dan bercerita tujuan kedatangan mereka.

******

‘Adit hanya belum siap!’ Terngiang-ngiang kata itu seperti membisikku setiap waktu. Apakah itu hanya dusta atau entah apa. Aku tak peduli! Aku hanya ingin ‘dia’ hadir dan berhak mendapatkan bahagia seperti yang lainnya. Meskipun aku tidak, tapi ia berhak. Aku memperjuangkan banyak hal untuknya aku rasa DIA juga takkan menyia-nyiakannya untukku. Begitu banyak rasa kecewa dan raguku pada kasihNYA. Tapi banyak yang Ia tebus hari ini untukku. Belum cukup rasa khawatirku yang membuatnya yakin meninggalkanku. Terima kasih Bapa, gumamku dalam hati.
“Tarik nafas dalam-dalam…” kata wanita berbaju putih di depanku membuatku berhenti berpikir. Aku membayangi semua benda putih ini. Tampak jelas Adit sedang mengganggam tanganku erat. Aku menatapnya tajam.
“Aku nggak pernah maksa kamu. Aku cuma minta satu hal sama kamu, berdustalah, berpura-puralah peduli denganku, tapi jangan dengannya.” Kataku sambil tersenyum pada Adit.
Tangannya tampak melemah menggenggamku. Ia menatapku tajam, terlihat matanya berkaca terbayang cahaya. Kembali jemari itu menggenggam dengan kuatnya. Satu kecupan terasa di keningku.
“Aku sayang kamu.” Singkatnya sambil tersenyum kearahku. Suara malaikat kecil, malaikat kecilku menangis dan seakan menyambung teriakanku mendorongnya menatap warna dunia. Aku sempat melihatnya sejenak, cantik. Mungkin hanya sebentar, dan seketika segala yang ada di hadapanku menjauh dan mulai menghilang dan akhirnya gelap.

******

Adit menatap secarik kertas yang ada di antara buku-buku coklat.
‘Kupu-kupu kacaku,
Saat seekor belalang merelakan dirinya
Apa yang ia perjuangkan?
Sesuatu yang lebih indah bukan?
Sesuatu yang mungkin lebih dihargai yang melihatnya bukan?
Kaca yang mudah rapuh dan hancur
Kepercayaan dan cinta
Seperti itulah ia hilang dan tak ada harganya
Ketika dihancurkan

Kupu-kupu kacaku,
Terhempas dan tak ada harganya
Ditolak dan tak ada yang percaya
Tapi, jika nanti ketika kau ada
Dengarlah, betapa indahnya kamu bagi setiap mata
Karena kamu diperjuangkan oleh seseorang
Yang merasa kamu begitu berharga dimatanya’
Adit menggenggam erat kertas itu dan menatapnya dengan tetesan airmata yang tampaknya tak mampu lagi tertahan olehnya. Ia memeluk malaikat kecilku, Renata. Menatap berkaca ke arahku, kearah bingkai fotoku. Terlambat. Kini yang tersisa hanya beberapa kata, rasa, dan balasnya yang belum sempat terucap. Banyak usaha dan pengorbananku yang dipikirNYA akan terbayar dengan sebuah cerita. Aku yang selalu bertanya akan KasihNYA, dan mergukanNYA, ternyata benar Ia takkan pernah memberi cobaan melebihi batas kemampuanku, jika tidak maka ia akan memintaku berhenti. Kataku, menatap mereka dan tersenyum dari kejauhan, sangat jauh dari ragaku.

Tidak ada komentar:

Menurut Anda: